Breaking News
recent

Antara Emansipasi & Eksploitasi Wanita

Jika, wanita masa Ibu Kartini, dipaksa menjual harga dirinya kepada Belanda, 
wanita kini dengan rela menjual segalanya demi uang sekian juta. 
Jika, Ibu Kartini di zaman Belanda berusaha menyadarkan wanita dari kebodohan dan penjajahan,
maka ‘Kartini’ sekarang mesti menyadarkan wanita bahwa dirinya lebih mulai daripada uang sekian juta.
Jika dahulu kala, wanita disimpan  untuk memuaskan pria, 
kini ia dipajang dalam iklan untuk memuluskan komoditas yang dipasarkan, 

Bahkan tak jarang wanita itu sendiri telah menjadi komoditas yang diperdagangkan. Bukankah mobil mulus akan terlihat lebih indah jika diduduki wanita mulus? Bukankah rokok akan lebih laris jika dijajakan oleh wanita yang menantang? Tidakkah minuman akan lebih menarik jika memperlihatkan sedotan wanita? Dan, lihatlah berjajar stand-stand aneka jenis produk. Bukankah 90% yang menjajakannya adalah para wanita dengan baju seksi dan rok pendek yang dengan ramahnya mereka akan menawarkan produk tsb kepada pengunjung? 

Begitulah, dengan kemasan yang apik, para pencipta citra dan pelaku bisnis memanfaatkannya dan mempublikasikan sederetan istilah untuk mempengaruhi persepsi manusia, khususnya wanita. Istilah ‘menarik’, ‘cantik’, ‘anak gaul’, ‘gengsi’, ‘trendy’, dan seabrek lainnya, menjadi trend perkembangan zaman dan pergaulan. Apa hasilnya?? sebagian wanita merasa terlena dengan predikat istilah tersebut. Seluruh pujian akan keindahan fisik oleh para lelaki membuat kita merasa diakui dan dihargai sebagai wanita karena merasa dirinya dipuji dan dipuja oleh setiap mata lelaki yang menatap.  Hasilnya, jiwa materialisme, konsumerisme, dan hedonisme menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. 

Secara cermat, kita melihat bahwa eksploitasi terhadap wanita diterapkan secara dalam dan sitematis baik dengan kajian teoritis maupun budaya yang praktis. Secara teoritis, doktrin-doktrin agama ditafsirkan sedemikian rupa oleh sekelompok orang untuk mendudukan posisi wanita di bawah kendali laki-laki. Sederet teks-teks sakral dikumpulkan untuk membuktikan bahwa pesan-pesan Tuhan memang memihak laki-laki dan menempatkan perempuan sebagai makhluk yang harus diwaspadai, dimarahi, dan dijadikan abdi laki-laki. Adapun secara ilmiah, para ilmuwan menciptakan sekumpulan teori yang mendukung mitos-mitos tentang perempuan, seperti perempuan itu rendah akalnya, misterius sifatnya, ditakdirkan untuk mengabdi pada laki-laki, dan tidak kuat fisiknya.

Untuk menghapus semua kesan hina ini, memancarlah semangat mendunia yang menghembuskan isu kesetaraan gender atau emansipasi. Suara-suara yang saling sambung antar generasi ke generasi memberikan andil bagi pembentukan opini dunia terhadap peran dan kedudukan wanita dalam seluruh struktur kehidupan manusia, baik agama, budaya, sosial, ekonomi, maupun politik. Tak urung, sebagai realisasi ide tersebut telah terbentuk gerakan sejagat untuk mengangkat harkat dan martabat wanita yang sepanjang hayat keberadaanya selalu tertindas sebagai makhluk setengah jadi dan warga kelas dua di bumi ini.

Karenanya perbincangan tentang wanita telah menjadi bagian dari kajian filsafat, sains, bahkan agama. Corak pandangan berkembang, mulai dari yang menghinakan hingga yang memuliakan. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa pria dan wanita adalah berbeda. Banyak penelitian dan buku ditulis untuk membuktikannya. Perbedaan itu tidak hanya menyangkut jenis kelamin saja, tetapi juga faktor-faktor lain yang melekat pada keduanya. Namun, perbedaan tersebut bukanlah ingin menunjukkan kekurangan dan ketidaksempurnaan pada salah satunya, tetapi sebaliknya, itu merupakan hikmah penciptaan dan karya utama dari Sang Kholiq.

Kesempurnaan manusia, tidaklah dipandang dari sudut biologis dan anatomi tubuhnya, melainkan dari psikologis dan konstruksi ruhaninya. Dengan demikian, wanita memiliki andil setara dengan pria dalam menggapai kesempurnaan diri dari seluruh aspeknya, karena ruhani manusia tidak memiliki label jenis kelamin. Artinya, hakikat kemanusiaan bukanlah pria dan bukan pula wanita. Melainkan, sejauh mana aktualisasi potensi kemanusiaanlah yang menjadi ukuran derajat manusia di sisi Sang Pencipta.

Emansipasi, jangan eksplorasi. 
Wanita punya hak atas pendidikan, kehidupan, kebebasan yang sama seperti kaum pria.  Tidak ada lagi perbedaan antara kaum pria dan wanita atas hak nya, bukan  berarti kita lantas bisa bebas seenaknya menjadi wanita karir tanpa mengurusi keluarga. Karena kebebasan disini dengan cara yang adil, yaitu menempatkan sesuatu ditempatnya. Dan kita seharusnya sadar akan peran kita sebagai wanita. Wanita tetaplah seorang anak bagi orang tua, istri bagi suami dan ibu dari anak-anaknya. Dan wanita merupakan  madrasah pertama bagi anak-anaknya.Sehingga kualitas generasi penerus bangsa tergantung pada peran wanita sebagai ibu.

Karena Wanita yang Hebat akan melahirkan Generasi yang Hebat.
Selamat Hari Kartini Untuk Seluruh Wanita Indonesia.



- _____ ( ^ _ ^ ) V ____ -

Referensi tulisan:
http://liputanislam.com/kajian-islam/kartini-masa-kini-antara-emansipasi-dan-eksploitasi/
Unknown

Unknown

No comments:

Post a Comment

Translate

Wardah@mychocochips. Powered by Blogger.