Breaking News
recent

Menanti Senja (Cerita Bersambung)




"Apa? Kau bilang jenuh? Padaku?"

Ia hanya terdiam. Kembali bungkam tak ingin menjelaskan.

"Kau tahu kan, aku sudah mengorbankan semuanya demi dirimu? Dan kini, kau berkata bosan? Padaku?"

Air mata yang sedari tadi menggantung di pipi, kini berjatuhan. Rasanya aku tidak kuat lagi menanggung semuanya sendiri.

Dengan helaan nafas panjang ia yang sedaritadi bungkam, akhirnya angkat bicara, "Maaf.." 

Hanya satu kata, yang bahkan terdengar seperti sedang mengasihani diriku dibandingkan rasa menyesal. Aku tahu, tak seharusnya aku berharap padamu.

"BRENGSEK!" teriakku. Namun sayang, saking kesalnya aku malah tak bersuara. Hatiku menjerit, meronta, menyalahkan takdir, menyalahkan keadaan, menyalahkanmu.

Aku terisak. Air mataku terjatuh. Bodoh, mengapa aku sebodoh ini. Menangis hanya karena pria sepertimu. Tiba-tiba tangannya membasuh wajahku, menghapus air mata yang sedari tadi tak hentinya menetes.

Ia memelukku, aku meronta. Namun cengkraman tangannya bahkan lebih kuat dariku. Aku melawan namun tetap tak berdaya. Sakit, perih, terluka. Bagai terseok-seok aku menguatkan diri namun tak bisa. Aku hancur. Hatiku patah. Cintaku hilang. Emosiku terbakar. Aku marah, kesal, sebal, aku jatuh.

Pandanganku mulai buram. Dia seperti membisikkan sesuatu, namun tak jelas. Aku tak bisa mendengarnya. Perlahan tubuhku mulai kehilangan keseimbangan, aku roboh.

Mungkin inilah akhirku.


To be continue..
Wardah F

Wardah F

No comments:

Post a Comment

Translate

Wardah@mychocochips. Powered by Blogger.