Breaking News
recent

Pramuda FLP Belajar Sastra


Sastra.. Semakin aku mengenalnya, aku makin jatuh hati. Beberapa bulan ini, ditengah kesibukanku bekerja sambil kuliah, aku menyempatkan diri untuk semakin mengenal sastra. Rasanya seperti menghidupkan kembali sebuah cita - cita lama yang telah terkubur. 

Aku masih ingat benar, dulu aku sangat ingin menjadi penulis. Namun semangat itu semakin lama semakin menghilang. Lenyap. Entah aku yang sudah terlalu jenuh atau aku yang terlalu malas dengan cita - cita itu. Pergaulan membawaku mengikuti zaman. Sehingga hobi menulisku, aku tinggalkan.

Namun kini, kehadiran Sekolah Pramuda yang diadakan oleh FLP Bekasi mengusik kejenuhanku. Ia menawarkan sebuah harapan dalam mewujudkan mimpiku. Menjadi seorang penulis.Spontan, dengan semangat membara, aku langsung mendaftar dan bergabung kedalamnya.

Aku sadar, semuanya butuh proses. Menjadi penulis tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun bukankah sebuah proses panjang juga dilalui oleh sebuah nasi? Bukankah para petani harus membajak sawahnya terlebih dahulu untuk menghasilkan padi? Lalu padi harus digiling dulu untuk menghasilkan beras? Bahkan proses panjang itu belum mengubah padi menjadi nasi. Masih ada serangkaian proses lagi. Para ibu harus mengaroni berasnya terlebuh dahulu hingga ia menjadi nasi. Lihatlah, nasipun melalui prosesnya yang sangat panjang dan rumit. lantas bagaimana dengan kita? Terhadap semua mimpi yang ingin kita wujudkan. Apakah kita akan menyerah dan pasrah kepada takdir? 

Oleh karena itu, disinilah aku menghabiskan waktu. Weekend-ku yang hanya ada di hari minggu, kuputuskan menggunakannya untuk belajar dan berlatih. Karena aku ingin suatu hari nanti namaku bisa terpampang dalam jejeran penulis best seller sekelas Tere Liye atau bahkan Asma Nadia.

Jujur saja, sebenarnya aku ingin seperti Andrea Hirata. Dalam novel Laskar Pelanginya, ia mampu menginspirasi jutaan rakyat Indonesia. Bahkan karyanya kini sudah diterjemahkan dalam beberapa bahasa. Sunggu membanggakan bukan? Ditengah banyaknya buku asing yang masuk kedalam negeri ini, paling tidak ada beberapa buku karya anak Indonesia terpajang juga dalam barisan toko buku luar negeri. Bukan hanya itu saja, berkat karyanya pula, pulau Belitong kini menjadi sangat terkenal sehingga ia banyak menarik wisatawan untuk datang kesana dan tentu saja itu berarti menambah pundi - pundi pendapatan daerah dan penduduknya.

Wah sungguh bahagianya rasanya jika bisa seperti itu. Dan seperti biasa, untuk mewujudkan mimpiku, setelah 2 pekan tak bertemu, kami akhirnya dipertemukan kembali dalam sebuah proses pembelajaran kepenulisan (lagi). Bersama belasan orang pecinta sastra yang lain, aku diberikan materi luar biasa oleh seorang pakar kepenulisan. Kini yang menjadi pembicara kami adalah seorang wanita muslimah yang juga seorang penulis buku parenting. Karyanya sudah terbit diberbagai media, baik blog, koran, website, atau bahkan buku. Beberapa buku pernah ia tulis, salah satunya berjudul Happy Working Mom.

Kami bagai orang - orang yang lapar ilmu. Semua yang ia ucapkan, kami simak dengan baik. Bak tak mau tertinggal sepenggal ilmu pun darinya. Karena ilmu lebih mahal rasanya dibandingkan harta. Mendapatkan ilmu dari mereka yang telah berpengalaman merupakan sesuatu yang luar biasa. Materi yang dibahas pada pertemuan kali ini, yakni Fiksi dan Non Fiksi.

Diawali dengan memperkenalkan diri dan penjelasan singkat mengenai tulisan apa yang kami sukai untuk ditulis. Setelah perkenalan itu selesai, materi dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana darinya. 

"Menurut kalian cerita Non Fiksi itu apa sih?" tanyanya santai.

"Non Fiksi itu.. mm... Non Fiksi itu fakta." kata seorang temanku

Namun bunda April hanya tersenyum. 

"Non fiksi adalah tulisan yang berbentuk fakta, kenyataan dan tidak mengandung imajinasi dari si penulis." jelasnya.

Semuanya lantas mengambil pena dan mencatatnya. "Khawatir Lupa", itulah alasan kami sebagai bangsa Indonesia yang cenderung menderita amnesia meskipun di usia kami masih amat muda. 

"Contoh non fiksi itu yakni artikel, berita, resensi dan buku. Sedangkan fiksi adalah tulisan yang berisi khayalan dan imajinasi dari si penulis, contohnya cerpen, novel, cerbung, dan lain - lain."  sambungnya menjelaskan kembali.

Kepiawaiannya menjelaskan dengan detail mengenai fiksi dan non fiksi mampu membuat kami mengerti tanpa mengenal rasa bosan. (tapi jujur, bukannya bosan atau mengantuk, tapi aku malah lapar. hehe).

Lalu ia mengambil koran, terhampar berbagai macam merek koran dihadapan kami. Lantas ia langsung mengambil contoh salah satu berita dalam koran tersebut dan menjelasan perbedaan antara berita dengan feature, bagaimana meresensi buku, mengajari kami cara mengirimkan cerita kami ke tim redaksi dan berbagai macam tips dan trick seputar penerbitan.

Namun yang menarik bagiku adalah saat ia menceritakan mengenai angle atau sudut pandang si penulis dalam mengungkapkan tulisannya. Sebuah cerita akan menjadi unik dan menarik, jika si penulis mampu mengambil angle yang berbeda dari kebanyakan cerita dari penulis lain. Seperti Kota Tua, jika penulis lain kebanyakan menulis tentang musium apa saja yang ada di kota tua, maka sebaiknya kita menemukan angle yang unik untuk diangkat, seperti Kuliner Tempo Dulu di Kota Tua. 

Bukan hanya itu saja, bunda April juga menjelaskan mengenai topik yang tak kalah menarik lainnya, yakni tentang "Personal Branding". Nama kita adalah brand. Maka bangunlah brand yang kita miliki, asah kemampuan menulis kita, salah satunya dengan ngeblog. Seperti yang saya lakukan kali ini. Tak heran banyak perusahaan yang mengundang para blogger untuk hadir dalam setiap acaranya. Karena blogger memiliki snow ball effect yang berbeda dari reporter. 

Kata seperti tak ingin disudahi. Namun apa boleh buat, tubuh meronta ingin istirahat. Mungkin cukup sekian cerita kali ini. Yang jelas satu hal, yakni Niat. Selama ada niat, disana ada jalan. Apapun cita - cita kita, bersungguh - sungguhlah dalam meraihnya.

"Hidup memang singkat. Maka buatlah namamu abadi dengan menulis."

Man Jadda Wa Jadda
Wardah F

Wardah F

1 comment:

  1. ternyata dirimu anak FLP Bekasi toh, mbak:) Bunda April mah kawan menulis antologiku dulu, begitu juga mbak Miyosi yg kawan sejawat, haha. Aku juga di Bekasi loh:) warga baru:)

    ReplyDelete

Translate

Wardah@mychocochips. Powered by Blogger.